Cerpen : Ataak, itu apa?
“Ataak,
itu apa?”
Anak kecil memanglah menggemaskan. Tingkah
mereka yang lucu, wajah ceria nan polos mereka yang imut, juga rasa ingin tahu
mereka yang tinggi membuat kita menjadi tidak merasa kesepian saat di dekat
mereka. Terlebih, walau mereka tidak lancar dalam berbicara, mereka tetap saja
mengoceh meskipun hanya terdengar “Ba-bi-bu,”
atau “Ao-ao,” bahkan huruf “k” dapat berubah huruf “t” dan huruf “r” berubah menjadi “l”. Hal tersebut dapat
membuatku semakin gemas dengan anak kecil, termasuk pada sepupuku.
Ia
adalah anak kecil yang usianya sekitar 2-3 tahun. Seperti anak laki-laki pada
umumnya, ia benar-benar senang bermain, berlarian kesana-kemari. Ia juga punya
rasa ingin tahu yang tinggi, seperti anak kecil pada umumnya. Akan tetapi, dia
berbeda dari yang lain. Aku benar-benar menyadarinya pada hari itu.
Hari
minggu lalu, keluargaku mengadakan arisan keluarga. Kali ini, arisan
berlangsung di rumah salah seorang saudara, Semarang, Jawa Tengah. Arisan
keluarga kali itu sedikit berbeda karena salah satu pamanku yang hanya bisa
datang 2 tahun sekali dapat hadir di tengah-tengah kami. Maklum, beliau tinggal
di luar Pulau Jawa setelah menikah. Beliau memiliki seorang putra. Ya, itu
adalah sepupuku, Faris namanya.
Sore
itu, sekitar pukul lima, aku tiba disana. Ayahku memarkirkan mobilnya pada
suatu bangunan kosong yang berjarak sekitar 20 meter dari rumah saudaraku
sebelum kami bergabung dengan yang lain. Seperti dugaanku, Faris dan sepupuku
yang lain sudah ada disana.
“Assalamualaikum,”
kata ayahku sembari masuk.
“Walaikumsalam,”
jawab mereka.
Faris
pun langsung berlari ke arahku sembari berteriak dengan wajah senang, “Ataaaakkkkk...” Sebelum akhirnya
memelukku dengan tertawa. Aku pun menoleh.
“Atak, cini, main,” katanya.
“Ayo.
Kamu lagi main apa itu, dek? Kakak ikut dong,”
“Utlamen, blubah!” katanya seraya
memperagakan. Aku pun spontan tertawa melihat tingkahnya yang satu ini. Ketika
ia sedang berlarian kesana kemari, langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia juga
menoleh kearahku.
“Eh?
Kok berhenti, dek? Ada apa?” tanyaku
Ia
tidak menjawab. Hanya berjalan ke arahku dengan pandangan lurus ke depan.
“Atak, janan dicitu, ataknya itu mau
lewat,” katanya seraya menarik tanganku, memintaku untuk menyingkir dari tempat
itu. Aku hanya terdiam dan menuruti apa yang diminta Faris. Aku tak tau harus
menanggapi apa. Aku antara kaget dan sedikit merinding karena disekitarku tidak
ada siapapun selain aku dan sepupu-sepupuku. Setelah menyingkir dari sana, aku
pun langsung mengajaknya ke dalam rumah.
Di
dalam, kakak sepupuku memintaku untuk menemaninya di dapur. Aku pun menemaninya
dan sedikit membantunya. Disana, aku menceritakan apa yang kualami tadi sore.
“Ah
masa? Kemaren dia sama aku biasa aja tuh, engga kaya gitu. Perasaanmu aja kali,
dek,” kata Kak Rissa, kakak sepupuku..
“Beneran,
kak, tadi aja aku sampe merinding,” kataku.
“Udah-udah,
itu kamu lagi parno aja, dek,” jawab Kak Rissa sembari tertawa.
“Enggak
Kak Rissa, itu-“
“Udah,
dek, gausah dibahas lagi. Hantu itu engga ada. Anggap aja itu imajinasinya si
Faris. Sini, gih, bantuin aku potong sayurnya,” kata Kak Rissa.
Aku
pun pasrah. Bagaimanapun, memang Kak Rissa itu tidak percaya pada hal yang
seperti itu.
Usai
memasak di dapur, aku dan Kak Rissa pun menuju ke ruang tengah untuk bergabung
dengan yang lainnya. Dan lagi-lagi, Faris mendekatiku. Ia menyapaku dengan
riang. Aku masih sedikit merasa ngeri dengan peristiwa tadi sore.
“Sabar
deh, cuman semalem aja,” pikirku.
Aku
pun memutuskan untuk bermain game di handphone-ku.
Faris pun memperhatikan dengan serius. Ia juga banyak sekali bertanya dan hal
itu terkadang sedikit menggangguku. Tapi, aku kembali merasa tidak keberatan
setelah melihat wajah imutnya. Semua rasa sebalku hilang seketika.
“Kak
Rara, tante nitip dek Faris, ya,” Kata Tante Lisya, ibu dari Faris.
“Eh,
iya, tante,” jawabku. Seketika, Faris langsung tersenyum senang. Ia langsung
mengajakku untuk bermain banyak dengannya. Ia bahkan sangat antusias. Aku sudah
benar-benar pasrah kali ini.
Malam
ini kami memutuskan untuk makan malam dengan makan ikan yang kami bakar sendiri
di halaman rumah. Namun, ada beberapa bahan yang kurang sehingga aku dan Kak
Rissa diminta untuk membeli beberapa bahan yang belum ada, berikut juga alat
pemanggangnya. Karena Faris selalu ingin ikut dan terus merengek, akhirnya
Faris pun ikut, tetapi dengan didampingi oleh Om Athur, ayahnya.
Setelah
mendata apa saja yang akan dibeli kami pun berangkat dengan menggunakan mobil Om
Athur yang terparkir di depan bangunan kosong, tempat yang sama dengan tempat
ayahku memarkir mobilnya tadi sore.
Kami membeli semua alat dan bahan
yang dibutuhkan, kami pun kembali ke rumah paman, tempat semuanya berkumpul.
Semuanya berjalan lancar hingga tiba saatnya pamanku itu memarkir mobilnya.
Ketika
pamanku berusaha memundurkan mobilnya, entah kenapa mobilnya tidak mau mundur,
seperti menabrak sesuatu di belakang. Padahal, jarak antara mobil dan tembok
masih cukup jauh. Pada saat yang sama, Faris yang tadi nya selalu melihat ke
arah belakang tiba-tiba memelukku dengan erat. Ia pun menutup matanya, seperti
ketakutan melihat sesuatu.
“Udah!!!
Udah!!!” katanya sambil berteriak.
Semakin
pamanku berusaha untuk memundurkan mobilnya, Faris semakin histeris. Aneh
memang. Aku dan Kak Rissa saling pandang. Kulihat wajahnya tampak pucat.
Kurasa, ini cukup membuktikan padanya jika yang kuceritakan tadi itu benar,
tidak karangan belaka.
“Rara,
coba kamu cek, di belakang ada batu besar atau apa,” kata Om Athur
Aku
hanya mengangguk, lalu keluar mobil dan memeriksa ada apa di belakang. Aku
mulai bergidik ngeri karena di belakang mobil pamanku tidak ada apapun. Entah
itu kayu, dinding, ataupun batu besar seperti yang dibicarakan Om Athur tadi.
“Gimana,
Ra?” tanya Om Athur.
“Ngga
ada apa-apa, Om,”
Setelah
mendengar jawabanku, Om Athur pun sedikit memajukan mobilnya, lalu
memundurkannya kembali. Namun, tetap saja mobil itu tidak bisa dimundurkan. Tak
lama, Kak Rissa pun keluar mobil dengan menggendong Faris yang masih histeris.
Wajahnya masih tampak pucat. Dia pun tampak mulai ketakutan. Setelah Faris ada
di dekat bagian belakang mobil, ia menunjuk ke arah belakang mobil. Lalu, Kak
Rissa meminta pamanku untuk berhenti dulu. Aneh, Faris langsung berhenti
menangis.
“Cana!” katanya kepada entah siapa itu.
Setelah
beberapa detik, Om Athur mulai menyalakan mesin dan memundurkan mobilnya
perlahan dengan lancar, seolah semua berjalan kembali normal. Aku dan Kak Rissa
hanya terdiam tanpa kata.
“Ayo,
balik,” kata Om Athur.
Kami
tetap tidak bergeming. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan
mataku.
“Kalian
kenapa? Kok diem wae?”
“Eh,
nggapapa, Om,” kataku
“Kamu
sakit, Ris?”
“Engga,
Om, cumaan anu, itu..,” tutur Kak Rissa sambil menunjuk ke arah belakang mobil.
Pamanku
hanya tersenyum. Sepertinya beliau memahaminya.
“Yaudah,
balik yok,” kata pamanku sembari
menggendong Faris.
Kami
baru berjalan beberapa langkah, namun Faris tetap menatap ke arah belakang
kami.
“Dadaaaaa,” ucapnya sembari melambaikan
tangan ke arah mobil.
Aku
dan kakak sepupuku hanya saling tatap tanpa kata.
Kami
pun tiba di rumah saudaraku. Disana, semua alat dan bahan sudah disiapkan,
tinggal menunggu kami. Acara makan malam berjalan dengan lancar. Peristiwa tadi
pun telah kami anggap sebagai angin lalu. Disamping itu, kami juga mulai
sedikit terbiasa.
Usai
makan malam dan mengobrol sana sini, tiba saatnya untuk tidur. Aku tidur satu
kamar dengan Faris dan Kak Risa.
“Alhamdulillah,
akhirnya berakhir sudah,” pikirku.
Setelah
mempersiapkan segalanya, kami pun mulai bersiap untuk tidur. Kami tidur di
kamar depan. Di kamar itu terdapat sebuah AC diatas kaca jendela yang di sudut
ruangannya terdapat benyak boneka yang ditata rapi. Sebelum tidur, kami
mematikan lampunya dan memposisikan diri kami. Faris tidur di tengah, Kak Risa
yang paling tepi, sedangkan aku tidur di tepi terdekat dengan tembok.
Pada
awalnya, semuanya berjalan dengan baik. Kami dan mulai memejamkan mata. Baru
saja ku pejamkan mataku, aku mendengar suara seperti derap orang yang berlarian
kesana kemari di dalam kamar itu, lalu menghilang.
Tak
lama, terdengar suara ketukan pintu yang membuatku mau tidak mau bangkit dari
tempat tidurku dan memeriksa ada apa. Namun, setelah kubuka pintunya, tak ada
apapun di luar. Hanya ruangan yang gelap dan sunyi. Aku pun mencoba menghibur
diri dengan menganggap semua itu hanya halusinasiku semata dan kembali tidur.
Baru
saja ku pejamkan mataku, aku mulai mendengar suara ketukan jendela kamar. Ya,
seperti ada yang mengetuknya dari luar. Karena takut. Ku tutup rapat-rapat mata
ini sembari berharap agar aku segera menuju ke alam mimpi.
“Ataaak,”
kata Faris pelan sembari menyentuh punggungku dengan jari mungilnya.
“Hmm?”
jawabku sambil menoleh kearahnya.
“Itu
apa?” tanyanya sambil menunjuk kearah atas
“Itu
AC, dek,” jawabku.
“Butan,
kak, itu,”
“Lampu
AC kali, dek” sahut Kak Risa yang ikut terbangun.
“Iya,
dek? Lampu AC?” tanyaku
Kali
ini Faris hanya menggeleng. Tangannya masih tetap menunjuk ke arah atas. Aku
tak berani langsung menoleh. Spontan, aku langsung membangunkan Kak Risa. Ia
menoleh kali ini. Setelah kulihat baik-baik, ternyata jari tangan Faris
mengarah tepat di atasku. Ternyata, itu adalah suatu hal mengerikan yang tak
dapat kujelaskan dengan kata-kata.
Pada
awalnya itu hanya seperti lubang yang cukup besar di langit-langit kamar itu.
Ternyata, semakin lama itu nampak seperti topeng putih yang memiliki rambut
hitam panjang.
“Brukkk” terdengar
seperti ada yang jatuh. Ya, benda itu benar-benar jatuh di hadapanku. Kami
sontak berteriak karena kaget dan takut. Kak Rissa langsung menggapai saklar lampunya.
“Lhoh,
kok gamau nyala?” gumam Kak Rissa.
“Buruan
ah Kak, gak lucu ini. Itu yang jatoh apaan coba,” kataku.
“Beneran
kok, liat nih,” kata Kak Rissa sembari menekan saklar lampu berkali-kali.
“Atak, atu tatut,” gumam Faris. Ia
mendekapku sangat erat. Ia begitu ketakutan hingga tangannya sedingin es.
“Gapapa,
dek, ini lampunya cuman mati,” kata Kak Rissa.
“Atak, itu,” ucap Faris tiba-tiba. Ia
menunjuk ke arah belakang kami. Benar memang, benda itu melayang, lalu terbang kalang kabut tanpa arah, menabrak
segalanya di dalam kamar. Di saat yang sama, terdengar suara jeritan tiada
henti seiring dengan terbangnya benda
itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!”
spontan kami berteriak, bahkan Faris pun menangis sejadi-jadi nya. Kami pun
spontan meraih gagang pintu dan berusaha membukanya. Tapi, pintu kamar itu
seolah terkunci. Kami tak dapat membukanya meski berusaha berulang kali. Kami
juga berusaha menggedor-gedor pintunya, meminta tolong. Namun, seakan tidak ada
yang yang mendengarnya. Tanpa jawaban. Disaat yang sama, suara jeritan itu
semakin keras, lalu menghilang.
Aku
bisa merasa sedikit lega. Kini, kami hanya perlu menenangkan Faris. Aku tak
tahu kenapa tiba-tiba terjadi hal seperti ini. Setelah Faris sedikit tenang, kami
pun kembali ke tempat tidur. Entah kenapa aku mendadak merasa aneh.
“Atak,
cini aja. Jangan bobo dicana,” kata Faris sambil menarik tanganku. Aku merasa
takut. Tapi, mau bagaimana lagi, kami harus tidur.
“Kenapa?
Gaada apa-apa. Udah nggapapa kok,”
“Ada
atak galak,”
“Eh?
Kak Rissa? Kok galak?”
“Butan, itu, tak, yang dicitu,”
katanya sembari menunjuk tempat ku tidur tadi.
“Engga,
dek, itu kakaknya engga galak, kok. Faris bobo ya?” bujuk Kak Rissa.
Akhirnya,
Faris mengangguk dan menurut. Baru 2 langkah aku berjalan, aku mulai menyesali
keputusanku.
“Aaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!”
aku berteriak. Aku takut, kaget juga. Ya, aku bertatap muka dengannya. Suatu benda yang ku tak tau apa itu, yang
tiba-tiba mendorongku, menindihku hingga ku terjatuh di lantai dan benar-benar
tak bisa bergerak. Yang lebih mengerikan lagi, aku merasa seperti tercekik.
“Dek
Rara, kamu knapa, dek? Dek?” tanya Kak Rissa khawatir. Aku yakin, Kak Rissa
pasti tidak lihat apa yang terjadi padaku.
“Tak Ica, itu atak,” rengek Faris. Kulihat, samar-samar kelihatannya Faris
menarik tangan Kak Rissa ke arahku. Aku tak bisa melihat jelas.
Aku
mendengar suara langkah orang berlari, suara gagang pintu yang dibuka
berkali-kali, menggedor-gedor. Setelah mendengar suara teriakan minta tolong,
aku bisa menyimpulkan bahwa itu pasti Kak Rissa. Namun, tak ada dampak apapun.
Membaca
doa telah ku lakukan sejak awal. Tapi, aku tak tahu mengapa ketika membaca doa, semuanya justru makin
memburuk. Kali ini, aku semakin merasa sakit, seperti mau mati rasanya. Lampu
kamar nyala, berkedip-kedip, lalu pecah. Suasana makin mencekam. Kami menjerit
sejadi-jadinya.
“Allahu
Akbar, Allahu Akbar,” terdengar suara adzan Subuh. Aku benar-benar merasa Tuhan
benar-benar mendengar doaku. Segala tekanan, rasa sakit yang kualami hilang
seketika. Benda itu pun hilang.
Terbang melesat ke arah jendela meninggalkan gelegar suara kaca yang pecah.
Beberapa
saat kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka.
“Eh?
Kalian udah bangun? Apa itu yang pecah?” tanya bibiku. Kami tidak menjawab.
Sepertinya beliau paham apa yang kami maksud.
“Mamaaaaa,”
ucapnya sembari berlari memeluk ibunya. Bibiku itu terheran-heran. Namun,
melihat keadaan kami, lagi-lagi beliau mengerti. Beliau lalu menyuruhku dan
sepupuku keluar untuk melaksanakan Shalat Subuh berjamaah.
Sehabis
itu, mereka meminta kami menceritakan apa yang terjadi. Kak Rissa pun
menceritakan semuanya. Sayangnya, hanya kakek nenek kami dan orang tua Faris
yang percaya. Dan sisanya mengira bahwa itu hanya mimpi buruk saja. Mereka
mengira begitu karena semalam tidak ada suara minta tolong, jeritan, dan pintu
yang digedor. Aku benar-benar tak habis pikir akan hal ini.
Detik
jam terus berdetak hingga tak terasa tiba saatnya Sang Mentari untuk
memancarkan cahaya hangatnya yang membelai lembut tiap insan untuk bersiap
memulai hari, membuka lembaran baru. Sarapan bersama, berkemas, bersiap pulang
menjadi susunan acara hari ini. Usai berpamitan, aku, ibu, ayah, dan adikku pun
kembali ke kota asal kami.
Hari
demi hari terus berlalu. Hingga tak kusangka waktu akan berlalu secepat ini. 2
tahun berlalu begitu cepat. Kejadian malam itu masih terus melekat di benakku.
“Ra,
kamu Hari Sabtu sama Minggu ini jangan maen kemana-mana ya,” kata ibuku ketika
kami tengah sarapan sebelum berangkat sekolah.
“Ada
apa, Ma?” tanyaku balik
“Biasa,
arisan keluarga,”
“Oh,
oke oke,” jawabku santai.
Selama
perjalanan menuju sekolah, perkataan Ibu tadi cukup membuat ku menjadi sedikit
bimbang. Aku tak tau harus senang atau sedih karena sebenarnya, jauh di dalam
benakku, aku langsung teringat akan 1 orang. Faris.
=====
END ====
Penulis Cerpen : Elvira Nava F (06)
Post a Comment for "Cerpen : Ataak, itu apa?"
Post a Comment