Cerpen : Kesiangan


Kesiangan

Beberapa tahun lalu,ada seorang anak lelaki yang bernama Dito. Dia baru saja menduduki kelas 1 SMA. Dia ini merupakan tipe anak yang hiperkatif tetapi fisiknya tidak kuat dan mudah sekali lelah. Dia ini merupakan anak yang cerdas dan sangat disiplin tetapi sifatnya masih sangat labil dan belum mempunyai pendirian yang tetap. Dia bersekolah di sekolah favorite. Dan dia hidup di keluarga yang serba kecukupan.
Dito mempunyai kawan akrab yang berasal dari SMP yang sama dengannya. Ia bernama Fiona, dia sangat cantik dan cerdas. Setiap orang yang melihatnya pasti terkagum. Dito dan Fiona ini sangat akrab sekali melebihi sahabat.
Waktu itu, keluarga Fiona terkena musibah yang tak terduga. Ayahnya menderita penyakit leukimia yang selama ini disembunyikan dari anak dan ibunya. Suatu ketika, tiba-tiba ayah Fiona jatuh pingsan saat sedang makan malam bersama. Dengan segera ibu Fiona melarikannya ke rumah sakit. Sebelum sadar, dokter telah memberi tahu bagaimana keadaan ayah Fiona. Ternyata ayahnya menderita penyakit leukimia stadium 3 dan harus segera di operasi. Ibunya pun langsung shock mendengar penjelasan dari dokter. Sedangkan keluarga Fiona tidak terlalu kaya. Ia memerlukan banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi tersebut dan ibu Fiona hanya ibu rumah tangga. Fiona merasa terpukul sekali dengan kabar tersebut.
Setiap hari Fiona yang berangkat sekolah bersama dengan Dito itu akhir-akhir ini sering kali merenung dan terlihat memikirkan beban yang berat. Dito pun merasa ada yang aneh pada Fiona karena tidak biasanya dia berlaku seperti itu. Karena dia merupakan tipe orang yang sangat ceria.  Dito mulai bertanya kepada Fiona apa yang sedang mengganggu pikirannya,tetapi Fiona tidak mau memberi tahu sahabatnya itu.
Karena sudah lama sakit dan ibunya sudah tidak mempunyai uang simpanan lagi, akhirnya Fiona menceritakan semua yang terjadi di keluarganya,mungkin saja Dito mempunyai solusi untuk masalahnya kali ini. Akhirnya Dito berusaha untuk meminta sumbangan kepada teman teman di sekolahnya dengan cara berjualan es dan sekaligus meminta sumbangan sukarela untuk operasi yang akan dilakukan oleh ayah Fiona. Tak hanya itu, Dito juga memberi tahu orang tuanya bahwa ayah sahabatnya itu memerlukam banyak biaya untuk operasi. Orang tua Dito pun langsung datang ke rumah sakit untuk mengurus segala biaya administrasi operasi ayah Fiona. Uang yang di dapat dari hasil jualaj Dito itupun juga diberikan kepada Fiona. Akhirnya ayah Fiona di operasi. Dan operasinya berjalan dengan lancar. Sejak saat itu keluarga Fiona dan Dito semakin dekat karena keluarga Fiona merasa berhutang budi kepada keluarga Dito. Namun, beberapa hari setelah itu,ayah Fiona dipindahkan ke kantor pusat. Dengan terpaksa Fiona pindah dan tidak pernah bertemu lagi dengan Dito.
Dito sekarang sendiri. Padahal baru akhir pekan lalu, ia ingin menyatakan cintanya kepada Fiona tapi semuanya telah kandas begitu saja. Ia harus belajar melupakan Fiona untuk selama lamanya.

Suatu hari, ia harus melakukan semua kegiatan dalam setengah hari penuh,karena fisiknya yang kurang kuat dan semalam juga belum sepenuhnya istirahat jadi ia tertidur di kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Gurunya pun menyadari bahwa Dito tertidur dengan pulasnya di kelas tetapi tidak membangunkannya. Saat Dito terbangun, ia langsung diperintahkan untuk maju ke depan oleh gurunya. Ia di introgasi mengapa tidur di dalam kelas. Tanpa menjawab sepatah katapun Dito langsung terkena sanksi menulis surat pernyataan 10 lembar kertas folio dan harus dikumpulkan besok pagi. Malam itupun Dito tidak tidur lagi karena mengerjakan sanksi tersebut.
Keesokan harinya ia bangun kesiangan karena habis mengerjakan sanksi tersebut. Dengan tergesa gesa ia mandi dan bergegas berangkat ke sekolah. Sampai ditengah perjalanan ia menyadari bahwa tugasnya tadi masih ditaruh di atas meja belajarnya. Padahal perjalanan sudah hampir sampai dengan terpaksa ia kembali lagi ke rumah untuk mengambil tugasnya. Setelah sampai di rumah,ia justru ingin buang air besar. Karena sudah tidak dapat ditahan lagi,ia buang air besar selama 30 menit. Ia bergegas kembali lagi ke sekolah dan sampai didekat pasar ia menabrak dagangan pedagang kaki lima karena mengendarai dengan melamun. Penjualnya pun tidak terima dengan tindakan Dito. Untuk memperlancar perjalanannya Dito memberikan ganti rugi kepada pedagang itu dan pergi. Setelah sampai di dekat sekolah tidak ada orang sama sekali Doto sangat takut sekali jika mendapat sanksi lagi. Ia masuk ternyata di ruang2 kelas tidak ada orang sama sekali. Ia membuka handphonenya dan melihat jam ternyata masih pukul setengah 7 padahal jam di kamarnya menunjukkan pukul setengah 8 ternyata jamnya kecepatan. Setelah menunggu agak lama dikelas,masih belum ada siswa lain yang berangkat. Ia membuka handphone dan tanya di grup kelas "kenapa belum pada dateng?" salah seorang temannya menjawab"ini kan tanggal merah ya libur dong". Dito merasa sangat malu dan kesal sekali.



Tamat


Nurina Safitri


Post a Comment for "Cerpen : Kesiangan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel