Materi Pasir Mata Kuliah Bahan Bangunan dan Properti Material
Pasir
1. Pengertian
Pasir adalah contoh bahan material yang berbentuk butiran yang berukuran antara 0,0625 sampai 2 mm. Materi pembentuk pasir adalah silikon dioksida, tetapi di beberapa pantai tropis dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur. Pasir biasanya digunakan dalam pembuatan fondasi, beton, tembok dll. Pasir dapat berasal dari letusan gunung berapi, sungai, tanah atau pantai. Butiran pasir lolos saringan 4,8 mm (SII.0052-1980), 4,75 mm (ASTM C33,1982), dan 5 mm (BS.812,1976).
2. Pembentukan pasir
Adanya proses pelapukan fisik dan kimia pada batuan, misalkan granit. Granit mengandung Sodium Plagioclase feldspar (Na feldspar), Potassium feldspar (K feldspar), Kuarsa, Mineral aksesori: biotite, amphibole, atau muskovit. Jika Granit melapuk, Na feldspar dan K feldspar mengalami proses hidrolisis untuk membentuk kaolin, serta Na+ dan K+. Biotite dan / atau amphibole mengalami proses hidrolisis dan oksidasi, membentuk mineral lempung dan oksida besi. Kuarsa (dan muskovit jika ada) menjadi mineral residual. Fragmen batuan yang lapuk kemudian menjadi bagian dari unsur tanah. Butiran mineral kuarsa kemudian tererosi dan menjadi bagian sedimen pasir, diangkut oleh arus sungai atau angin untuk kemudian diendapkan membentuk sand dune, channel bar, point bar dan sandy beach. Lempung akhirnya tererosi dan menjadi muatan suspensi dalam arus air sungai, sampai kemudian terendapkan di lingkungan arus yang tenang. Ion-ion terlarut akan diangkut oleh sungai menuju laut.
3. Syarat pasir
Untuk bahan bangunan, syarat pasir sesuai SNI-S-04-1989-F: 28 adalah:
- Indeks kekerasan < 2,2
- Diuji dengan larutan Na-sulfat bagian hancurnya 12%, atau dengan MG-sulfat bagian hancurnya 10%
- Mengandung lumpur < 5%
- Tidak boleh mengandung zat organik (sisa-sisa makhluk hidup), < 3% jika dengan Na-sulfat, tidak lebih tua warnanya jika menggunakan warna pembanding
- Reaksi terhadap alkali harus negatif
- Tidak boleh menggunakan pasir laut
- Gradasi baik
Sedangkan syarat pasir untuk campuran beton yaitu:
- Modulus kehalusan 2,50-3,80
- Kadar lumpur < 70 mikron, maksimum 5%
- Tidak boleh mengandung zat organik (sisa-sisa makhluk hidup), < 3% jika dengan Na-sulfat, tidak lebih tua warnanya jika menggunakan warna pembanding
- Kekerasan butir, jika dibanding dengan pasir kuarsa bangka memberi hasil < 2
- Diuji dengan larutan Na-sulfat bagian hancurnya 10%, atau dengan MG-sulfat bagian hancurnya 15%.
4. Jenis-jenis pasir
a. Pasir galian
Diperoleh dari permukaan tanah atau penggalian. Kriteria: tajam, bersudut, berpori, bebas kandungan garam, harus dibersihkan dari kotoran dengan cara dicuci.
b. Pasir sungai
Diperoleh dari dasar sungai. Kriteria: butir halus, bulat, daya lekat antar butir kurang tetapi cocok buat plesteran
c. Pasir laut
Diperoleh dari pantai, butiran halus, bulat, mengandung garam sehingga tidak cocok untuk bahan bangunan.
d. Pasir beton
Berwarna hitam, butiran cukup halus, jika dikepal dengan tangan tidak menggumpal dan akan buyar kembali, baik sekali untuk pengecoran, plesteran dinding, fondasi, pemasangan bata dan batu.
e. Pasir pasang
Jika dikepal akan menggumpal dan tidak akan kembali ke semula. Biasanya digunakan untuk campuran pasir beton agar tidak terlalu kasar sehingga bisa dipakai untuk plesteran dinding.
f. Pasir elod
Paling halus diantara pasir beton dan pasir pasang. Ciri-cirinya apabila dikepal akan menggumpal dan tidak akan buyar kembali, tidak bagus untuk bangunan. Biasanya dipakai untuk campuran pembuatan batako.
g. Pasir merah
Cirinya hampir sama dengan pasir beton namun lebih kasar dan batuannya agak lebih besar. Pasir ini bagus digunakan untuk bahan cor.
h. Pasir urug
Hanya cocok dipakai untuk pekerjaan pengurukan (Urug), karena memiliki Gradasi yang bervariasi dan bercampur dengan Tanah/Lumpur dalam jumlah yang relatif banyak.
5. Parameter pemeriksaan pasir
a. SSD (Saturated Surface Dry)
Untuk memeriksa berat jenis/spesifik gravity.
b. Modulus halus pasir
Untuk mengetahui nilai kehalusan/kekasaran suatu agregat. Biasanya menggunakan sieve analisis. Penggolongan pasir ada pasir kasar, sedang, agak halus, halus.
6. Pemeriksaan kandungan lumpur
Lumpur adalah bagian pasir yang lolos ayakan 75 mikron/63 mikron/0.075 mm/0.063 mm/lolos ayakan no.200. Ketentuan dari SNI-03-2461-1991/2002, yaitu Kadar lumpur maksimum 3% berat kering (pasir yang mengalami abrasi) dan Kadar lumpur maksimum 5 % berat kering (pasir yang tidak mengalami abrasi). Apabila kadar lumpur lebih, maka akan mengurangi mutu beton, mekanismenya yaitu lumpur mengganggu hubungan antara pasta dengan agregat.
Cara pemeriksaan dibagi 2:
1. Sederhana
a. Peremasan/penggosokan
Pasir di remas atau digosokkan dengan kedua telapak tangan, kemudian perhatikan sisa yang menempel di tangan. Indikatornya: Banyaknya partikel yang menempel menunjukkan banyaknya kadar lumpur pada pasir.
b. Penggenggaman
Ambil pasir yang agak lembap namun tidak terlalu banyak air, kemudian digenggam dan dilepas. Indikatornya: Jika tetap menggumpal berarti kandungan lumpur cukup tinggi.
c. Penenggelaman pasir ke air jernih
Menggenggam pasir kemudian dicelupkan ke dalam air lalu dilepas perlahan, akan terlihat lumpur yang mengambang di air. Indikatornya: Banyaknya partikel lumpur yang terpisah dari pasir menunjukkan kadar lumpur yang terkandung.
2. Uji laboratorium
Yang dimaksud dengan kandungan lumpur adalah persentase ukuran butiran yang lolos saringan : no. 200 ASTM atau no. 200 British Standar atau no. 80 DIN (Jerman) atau ukuran lubang saringan standar SNI = 0,075 mm atau 75 μm.
PBI 1971.N.I-2 menetapkan ukuran saringan 0,063 mm atau 63 μm atau no 230 (ASTM) atau no 240 (BS) atau 90E (DIN) sebagai patokan pengukuran kandungan lumpur. Pengujian di laboratorium umumnya dilakukan dengan metode pencucian sesuai ASTM C-117 (Standard Test Method for Materials Finer than 75-μm (No. 200) Sieve in Mineral Aggregates by Washing).
Adapun rumus menghitung persentase kandungan lumpur = (berat pasir sebelum dicuci-berat pasir setelah dicuci)/berat pasir sebelum dicuci x 100%.
7. Pemeriksaan zat organik
Untuk mengetahui adanya zat organi yang melekat pada pasir. Zat organis yang melekat pada pasir akan mempengaruhi mutu mortar atau beton yang dibuat. Mekanismenya zat organik tersebut akan mempengaruhi proses hidrasi semen.
Adapun langkah pengujian:
a. Benda uji dimasukkan kedalam botol.
b. Tambahkan senyawa NaOH 3%. Setelah dikocok total volume kira-kira ¾ volume botol.
c. Botol ditutup erat-erat dengan penutup dan dikocok kembali. Diamkan selama 24 jam.
Post a Comment for "Materi Pasir Mata Kuliah Bahan Bangunan dan Properti Material"
Post a Comment